[Info] Jangan Pernah Remehkan Penyakit Diabetes Melitus

by - 16:41:00


Ini tulisan pertama saya di awal tahun 2017. Masih bisa di bilang awal tahun kan? Bukan awal tahun yang baik dan indah bagi saya maupun keluarga saya, tapi apapun yang terjadi harus tetap kita syukuri. Bener ngak?

Tanggal 4 Januari 2017 Ibu saya resmi dirawat di Rumah Sakit Dian Harapan - Waena. Jadi awal ceritanya begini. Sejak tahun 2013, Ibu saya operasi payudara. Setelah mengalami pemeriksaan lab, ternyata gula darah Ibu saya tinggi. Angka pastinya saya lupa berapa. Tapi yang jelas di atas 500. Selesai operasi payudara itu, Ibu saya mulai mengontrol makanannya. Dari mulai mengganti asupan karbohidratnya dari nasi menjadi kentang dan ubi-ubian sampai dengan menjadwal makannya. Saya pun rutin mengecek gula darah Ibu saya. Ada alatnya loh teman-teman. Mungkin lain waktu akan saya bahas.

Tapi makin lama, Ibu saya mulai lepas kontrol makannya. Apalagi tahun 2016 ini. Saya pun sudah jarang mengontrol gula darah Ibu saya. Akhirnya beginilah jadinya, Ibu saya harus dirawat inap di Rumah Sakit karena tumit kakinya yang luka.

Bulan Desember Ibu saya mengeluh kalau kakinya itu sakit, beberapa hari kemudian bengkak. Ibu saya pikir itu asam urat jadi dibiarkan saja, paling juga nanti sembuh kata Ibu saya. Memang betul, beberapa hari kemudian kakinya sudah tidak bengkak dan sakitnya berkurang. Tapi timbul masalah baru. Di telapak kaki hampir ke bagian tumit, ada muncul benjolan kecil berisi air. Ibu saya pikir itu sama saja seperti lukanya waktu kemarin-kemarin. Tapi lama kelamaan seperti bisul.

Kurang beruntungnya, waktu itu bertepatan dengan libur natal dan tahun baru. Dokter bedah yg biasa menangani Ibu saya sedang cuti. Waktu di bawa ke UGD ternyata dokter UGDnya tidak berani untuk bersihkan lukanya. Padahal kan kalau di drama-drama Korea, mereka berani banget kan sampai operasi. Tapi ternyata itu cuma di film. Hahaha

Alasan mereka yaitu tidak berani karena gula Ibu saya tinggi, waktu itu tes lab hasilnya 285. Akhirnya cuma dikasih obat minum. Katanya kalau masih belum ada perubahan, dibawa datang lagi ke Rumah Sakit.

Satu minggu berlalu dan luka di kaki Ibu saya tambah semakin parah. Luka yang awalnya kecil jadi semakin melebar. Saya pikir nanah kan. Saya coba pencet-pencet tapi tidak keluar nanahnya. Sampai pada akhirnya semakin parah karena sudah muncul bau tidak sedap. Mana dokternya baru ada tanggal 3 pula. 

Tepat tanggal 3, saya dan Bapak mengantar Ibu buat periksa ke dokter. Tahu ngak gemana reaksi dokter itu? "Wah, ini udah parah Bu. Saya kasih pengantar untuk opname ya." Sesuai dengan tebakan saya memang, pasti opname. Saya mana-mana ajalah, yang penting Ibu saya sembuh.

Jadi Ibu saya dirawat di Rumah Sakit Dian Harapan mulai dari tanggal 4 sampai dengan 19 Januari 2017. Ada apa dengan tanggal 3? Ruangannya penuh cin, baru dapat ruangan di tanggal 4. Sekitar 2 minggu lebih Ibu saya menjalani perawatan di Rumah Sakit, Ibu saya menjalani operasi sebanyak 2 kali.

Operasi pertama mengangkat daging mati di telapak kaki Ibu saya. Jadi jelas itu bukan bisul. Tapi itu daging mati. Penyebabnya karena Diabetes. Yang saya tangkap dari penjelasan dokter dan beberapa artikel yang saya baca nih ya, jadi kalau seseorang mempunyai kadar gula dalam darah yang terlalu tinggi ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Salah satunya penyempitan pembuluh darah di kaki, sehingga darah tidak bisa tersuplai secara baik ke daerah kaki.

Ciri-ciri awalnya itu kaki sering kesemutan, sakit, dan muncullah bengkak. Terkadang ada beberapa orang yang salah megartikan. Mereka pikir itu asam urat, padahal bukan.

Awalnya saya agak ngeri untuk melihat hasil operasinya, tapi karena rasa penasaran yang terlalu besar akhirnya saya memberanikan diri. Jadi setelah operasi pertama, luka Ibu saya dibersihkan dua kali dalam sehari. Jadi dilihat perkembangan lukanya. Dari apa yang saya lihat, banyak dagingnya yang berwarna hitam dan masih ada daging matinya yang berwarna putih. Kata dokter, yang berwarna hitam itu jaringan mati dan akan diangkat pada operasi kedua. Perawat hanya memotong atau menggunting daging-daging mati yang berwarna putih.

Sampai satu minggu kemudian, akhirnya operasi kedua dilaksanakan. Sempat tertunda sih, masalahnya karena albumin Ibu saya rendah. Jadi kata dokter, albumin itu yang membantu penyembuhan luka. Selesai operasi kedua ini agak sedikit ngeri juga sih saya ngeliatnya. Kenapa? Soalnya perbannya hampir penuh dengan darah. Tapi ternyata kata dokter itu bagus.

Karena melihat kondisi Ibu saya yang sudah tidak ada semangatnya lagi di Rumah Sakit, akhirnya dokter mengijinkan untuk dirawat jalan dengan syarat harus ada perawat yang datang setiap hari ke rumah untuk mebersihkan luka Ibu saya.

Alhamdulillah lukanya sudah semakin membaik. Tanggal 29 Januari masuk Rumah Sakit lagi untuk penjahitan luka. Setelah kontrol ke dokter, dokter memutuskan untuk menutup lukanya supaya proses penyembuhannya tidak terlalu lama. Sebenarnya bisa tidak harus dijahit, tapi akan memakan waktu yang lama. Jadinya kan kasihan Ibu saya.

Jadi saya mohon doanya ya teman-teman untuk kesembuhan Ibu saya.

Alhamdulillah sampai dengan saat ini, gula darah Ibu saya sudah stabil, kisaran 100-150. Dokter penyakit dalam menyarankan untuk menyuntikkan insulin 3 kali sehari ditambah satu kali saat malam hari. Kenapa insulin? Karena obat minum sudah tidak mempan.

Selain itu juga makanannya tidak boleh sembarangan. Maksud dari sembarangan disini adalah terjadwal dan tidak berlebihan. Perbanyak makan sayur, buah, dan protein.

Ingat ya teman-teman. Jangan pernah meremehkan penyakit Diabetes Melitus. Memang terlihat biasa saja, tapi Diabetes Melitus bisa menjalar menjadi penyakit lain dan merusak bagian-bagian tubuh lain. Ada tetangga saya yg sudah tidak bisa melihat karena Diabetes Melitus.

Kebanyakan orang mengetahui bahwa dirinya menderita Diabetes itu saat usia lanjut. Jadi peringatan keras juga untuk diri saya sendiri. Mulai dari sekarang, ubah gaya hidup menjadi yang lebih sehat. Makan makanan yang sehat dan bergizi, serta rutin berolahraga.

Ingat ya, jangan pernah meremehkan penyakit Diabetes Melitus

You May Also Like

0 komentar