[Ceritaku] Ketika Kehilangan Ibu

by - Saturday, November 25, 2017


Assalamualaikum teman-teman.

Saya mau menginformasikan kalau Ibu saya telah berpulang ke Rahmatullah hari Selasa tanggal 7 November 2017 sekitar jam 04.00 WIT. Ibu saya meninggal karena sakit, penyakit terakhir yang didiagnosis oleh dokter yaitu "gagal ginjal".

Yang menjadi penyesalan terdalam saya adalah saya dan Bapak saya tidak sempat mendapingi Ibu saya saat detik-detik terakhirnya. Loh kok bisa? Saya tidak tahu bagaimana tepatnya, intinya saya kaget ketika dibangunkan oleh Bapak saya dan beliau berkata bahwa Ibu saya sudah tidak ada. Saya hanya mampu menangis. Seharian itu saya hanya menangis sambil  memandangi jenazah Ibu saya saat belum dikuburkan. Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua yang telah datang saat itu karena tidak menjawab setiap pertanyaan. Hari itu saya betul-betul seperti kehilangan dunia saya. Apa yang orang katakan juga saya tidak mendengar. Saya hanya mendengar cerita Bapak saya yaitu jam 03.00 pagi Bapak saya masih bicara dengan Ibu saya. Ibu masih minta untuk diambilkan minum oleh Bapak. Setelah itu Bapak saya pergi ke kamar mandi dan kembali kesamping Ibu saya dan ketiduran. Sekitar jam 04.00 WIT Bapak saya bangun dan melihat Ibu saya tertidur sudah tidak seperti biasanya. Ibu saya saya selama pertama kali cuci darah sudah tidak bisa tidur terlentang, tidurnya harus duduk bersandar. Biasanya sandar dan agak miring ke kanan, tapi ini miringnya ke kiri. Saat dibangunkan Ibu saya sama sekali tidak memberikan respon. Bapak saya kemudian mengecek nadinya, dan ternyata nadinya sudah tidak ada.

Saya juga tidak merasakan tanda-tanda maupun firasat apa-apa saat Ibu saya akan meninggal. Karena malamnya itu sama seperti malam-malam biasa, saya, Bapak, bersama dengan Faqih (keponakan saya) menemani Ibu saya seperti biasanya di kamar. Kami masih bercanda seperti biasa. Bahkan kami juga merencanakan banyak hal. Mulai dari ingin mencoba obat tradisional yang saya dan Bapak saya dapatkan dari teman kami yang mengirimkannya lewat WA, rencana sebelum cuci darah (jadwal cuci darah Ibu saya hari Rabu dan Sabtu) besoknya, cek darah lengkap di lab, rencana kontrol ke dokter. Tapi Allah SWT berkata lain. Rasa sayang Allah SWT kepada Ibu saya lebih besar.

Saat memandangi jenazah Ibu saya, saya merasa senang dan sedih. Senang karena bisa melihat Ibu saya tersenyum dan tertidur pulas. Karena selama sakit, Ibu saya tidak bisa tidur dengan baik. Perasaan sedih karena hari itu terakhir kalinya saya bisa melihat Ibu saya. Tapi saya ikhlas, demi Ibu saya.

Terlalu banyak kenangan selama 23 tahun lebih yang saya rasakan bersama dengan Ibu saya. Saat Ibu menyuapi saya, saat Ibu gelisah ketika saya sakit, ketika Ibu cerewet ketika saya tidak mengikuti apa yang beliau perintahkan, ketika Ibu diam ketika saya ngambek, nasehat Ibu ketika saya sedang curhat, tawa Ibu ketika kami sedang bercanda, dan masih banyak lagi kenangan yang lainnya. Saya yang kalau makan buah harus dikupaskan dulu sama Ibu, kalau belanja juga harus berdua sama Ibu, kalau jalan-jalan juga berdua sama Ibu, kalau lagi stres juga ngeluhnya ke Ibu, setiap pulang kerja juga pasti menceritakan semua kegiatan yang saya lakukan seharian sama Ibu. Sekarang semua itu hanya bisa dikenang, tidak bisa diulang kembali. Sekarang saya baru sadar, saya memang anak yang sangat manja.

Sedih memang. Menulis ini saja mata saya berkaca-kaca. Sekarang saya harus bisa melakukan semuanya sendiri tanpa Ibu saya. Saya harus bisa menguatkan dan menasehati diri saya sendiri. Ngak akan ada yang bisa menggantikan sosok Ibu, biarpun Bapak saya sendiri. Sosok Ibu ya sosok Ibu, sosok Bapak ya sosok Bapak. Mereka mempunyai sifat dan caranya sendiri dalam menyayangi saya. Sekarang dirumah saya hanya berdua dengan Bapak saya.

Terlalu banyak kenangan memang. Saat saya sedang rindu dengan Ibu saya, yang bisa saya lakukan yaitu melihat foto Ibu saya dan mendoakannya. Pahit sekali memang rasanya. Saya mohon juga kepada semua teman-teman untuk mendoakan Ibu saya disana, supaya diampuni semua dosanya,  diterangi kuburnya, dilapangkan kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur, dikumpulkan dengan orang ahli ibadah dan sedekah, serta ditempatkan disisi terbaiknya Allah SWT. Al-Fatihah. Terima kasih.



You May Also Like

0 komentar