[Ceritaku] Kilas Balik Perjalanan Tahun 2017

by - Sunday, January 07, 2018

Assalamualaikum teman-teman semua..

Selamat tahun baru 2018! Semoga perjalan di tahun 2018 ini bisa lebih baik dibandingakan dengan tahun 2017 kemarin.

Bicara tentang tahun 2017, banyak sekali suka dan duka yang saya alami. Banyak cerita dan pelajaran tentang arti kehidupan yang saya rasakan. Bagaimana saya belajar tentang arti ikhlas, tentang arti menyayangi, dan tentang arti berkorban. Jadi bisa dibilang, tahun 2017 adalah tahun terpenting buat saya!


Januari - Februari 2017


Awal tahun dibuka dengan Ibuku yang terbaring di Rumah Sakit karena penyakit diabetes. Ibuku diharuskan melakukan operasi kaki karena luka yang disebabkan oleh diabetes. Waktu itu, saya langsung berfikir, kenapa harus mendapatkan cobaan seperti ini di awal tahun?

Kurang lebih 2 minggu Ibuku mendapatkan perawatan di Rumah Sakit, dengan 2 kali masuk ke ruang operasi. Setelah itu Ibuku dirawat jalan dengan mendatangkan mantri ke Rumah, melihat kondisi Ibuku yang sangat tidak bersemangat berada di Rumah Sakit. 

1 minggu kemudian setelah kontrol kembali ke dokter bedah, Ibuku masuk lagi ke Rumah Sakit untuk dijahit luka di kakinya. Kata dokter supaya dagingnya cepat tumbuh. 2 hari setelah itu, Ibuku kembali pulang ke rumah.

Penyembuhan luka di kaki Ibuku kurang lebih memakan waktu selama 4 bulan hampir 5 bulan. Alhamdulillah.


Maret 2017


Awal Maret 2017, Ayahku harus berangkat menuju kampung kelahirannya di Blitar. Sudah direncanakan dari jauh hari memang, sebelum Ibuku sakit. Bahkan tiketnya juga sudah di booking sebelum Ibuku sakit. Tapi sebelum berangkat, Ayahku tetap bertanya kepada Ibuku dan juga saya tentunya, "Apakah tidak apa-apa saya berangkat, kalau kalian mengizinkan saya akan berangkat. Tapi kalau tidak, saya tidak akan berangkat." Saya dan Ibu saya tidak apa-apa. Toh masih ada saya yang bisa merawat Ibu saya. 

Pada hari dimana Ayah saya berangkat, saya mendapat kabar dari sekolah bahwa saya harus ke Malang untuk melaksanakan Diklat. Kebingungan pertama yang saya alami. Saya tidak tega meninggalkan Ibu saya dalam keadaan seperti itu. Apalagi diklatnya dilaksanakan selama 10 hari. Ayah saya juga bingung mendapat kabar seperti itu dari saya.

Tapi Ibu saya mengizinkan saya pergi. Akhirnya saya meminta tolong kepada tante saya (kakak Ibu saya) dan sepupu saya untuk bisa menjaga Ibu saya selama saya dan Ayah saya tidak ada. Baru kali ini kita bertig terpisah-pisah. Ibu saya di rumah, Ayah saya di Blitar, dan saya sendiri di Malang.

Pertama kali dalam hidup saya mengikuti Diklat seperti ini. Banyak yang saya dapatkan, mulai dari teman baru, pengalaman, pokoknya banyak.

Sebelum balik menuju Jayapura, saya menyempatkan waktu beberapa jam untuk mengunjungi Mbah saya (Orangtua Ayah saya) yang berada di Blitar. Jadi itu merupakan kali pertama saya bertemu dengan Mbah saya dan saudara-saudara dari Ayah saya.


April - Mei 2017


Setelah kembali dari Diklat di Malang, saya dan 3 orang teman guru lainnya kembali untuk mengajarkan guru-guru yang mengikuti program Keahlian Ganda. Jadi guru-guru mata pelajaran normatif dan adaptif akan diajakan agar bisa menjadi guru produktif.

Suatu kehormatan untuk saya bisa membagikan ilmu yang saya dapat kepada guru-guru saya. Awalnya sangat canggung, karena yang saya ajar ini dulunya adalah guru yang pernah mengajar saya waktu saya masih sekolah di SMK N3 Jayapura. Banyak pelajaran yang saya dapatkan, karena mengajar murid biasa dan orang yang memang sudah menjadi guru itu sangat berbeda. Tapi pengalaman yang menyenangkan untuk saya.


Juni - Juli 2017


Merupakan pengalaman pertama bagi saya dan kedua orangtua saya merayakan Idul Fitri di Jawa. Kami berangkat 3 hari sebelum hari raya Idul Fitri. Kedua orangtua saya berasal dari daerah yang berbeda. Ayah saya berasal dari Blitar, Jawa Timur. Sedangkan Ibu saya berasal dari Pati, Jawa Tengah.

1 Minggu pertama kami habiskan di kampung halaman Ayah saya di Blitar, sedangkan 2 minggu berikutnya kami di kampung halaman Ibu saya. Bagaimana saya sangat stres dengan jaringan internet yang timbul tenggelam sedangkan saya masih mempunyai deadline kerjaan, baru pertama kali dalam hidup saya melihat uap dingin keluar dari mulut saya ketika saya berbicara, dan dalam sejarah hidup saya baru pertama kali saya tidak membutuhkan AC maupun kipas angin bahkan tidur siangpun saya mengenakan selimut. Itu karena daerah tempat Ayah saya berada di atas gunung.

Jujur saya merasa lebih betah di Pati, saya masih lebih mudah beradaptasi. Selain itu, saya masih bisa jalan-jalan sendirian karena akses dari rumah Mbah saya dengan jalan raya tidak terlalu jauh seperti di Blitar.


Agustus 2017


Kurang lebih baru satu Minggu saya kembali ke Jayapura bersama dengan kedua orangtua saya, saya kembali mendapatkan tugas untuk kembali ke Malang untuk mengikuti Diklat dan Uji Kompetensi untuk kegiatan Keahlian Ganda kemarin. Dulu saya membayangkan betapa seru dan asyiknya orang yang bisa kerja keluar kota, bolak balik naik pesawat. Sekarang saya merasakan sendiri dan rasanya itu sangat melelahkan.

Kurang lebih kami berada disana sekitar 10 hari. Kegiatan kali ini tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran seperti kegiatan bulan Maret kemarin. Kali ini kami sempat jalan-jalan ke tempat wisata Jatim Park 2, dan beberapa Mall.

Sekembalinya kami ke Jayapura, kami diharuskan untuk mengajar guru-guru yang kemarin. Kali ini saya sudah bisa enjoy dalam mengajar. Mungkin karena sudah ada pengalaman dari kegiatan di bulan Maret kemarin.


September 2017


Ini merupakan cobaan terberat dalam hidup saya. Ibu saya masuk Rumah Sakit dan keadaannya ternyata sangat parah. Ibu saya sudah divonis terkena gagal ginjal stadium akhir dengan dokter. Saat itu hati saya sangat hancur. Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saat itu saya merasa sangat berdosa dengan diri saya sendiri, merasa selama ini saya belum bisa menjadi anak yang baik.

Setelah menjalani hemodialisis (cuci darah) keadaan Ibu saya sudah agak membaik, walaupun Ibu saya tidak bisa berdiri dan jalan. Saya dan Ayah saya bersama-sama merawat Ibu saya di Rumah Sakit selama kurang lebih satu bulan.

Pengalaman pertama bagi saya melihat orang yang akan meninggal, mendengar tangisan-tangisan kesakitan, dan melihat orang yang akan menghadapi kematian. Semua itu menyadarkan saya bahwa kita di dunia ini hanya sementara, semua hanyalah titipan, semua akan kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT.


Oktober 2017


Melihat kondisi Ibu saya yang sudah berangsur-angsur pulih, akhirnya Ibu saya sudah diizinkan untuk pulang. Dengan catatan bahwa setiap hari Rabu dan Sabtu harus datang kembali untuk cuci darah. Walaupun saat itu, Ibu saya belum bisa jalan.

Berat memang rasanya. Bagaimana saya bertengkar dengan Ibu saya hanya karena larangan minum dan beberapa pantangan makanan. Bagaimana saya bilang kalau saya sangat sayang kepada Ibu saya, makanya saya melarang ini dan itu. Sedih sekali kalau saya harus mengingatnya kembali.


November 2017


Ibu saya dipanggil oleh Allah SWT. Ibu saya telah sembuh untuk selamanya. Ibu saya sudah tidak harus merasakan suntikan jarum, meminum obat, maupun kesakitan yang lainnya. Disatu sisi saya bahagia melihat Ibu saya seperti tertidur pulas seperti tidak ada beban lagi, tapi disisi lain saya merasa sangat terpukul. Saya kehilangan Ibu saya untuk selama-lamanya. Sosok yang sangat saya sayangi. Tempat saya berbagi cerita suka maupun duka.


Desember 2017

Cobaan tidak berhenti disitu. Setelah ditinggalkan oleh Ibu saya, Ayah saya memutuskan untuk memulai usaha di tempat yang lumayan jauh dari rumah. Alhasil sekarang saya tinggal di rumah sendiri. Alasan Ayah saya yaitu ingin mencari ketenangan. Yup, saya mengerti, ditinggal dengan seseorang yang sangat disayangi dan sudah menjadi bagian dari hidupnya itu sangat sulit. Hitung-hitung, saya juga harus mulai belajar mandiri!

Terima kasih buat "someone special" yang sudah berada disebelah saya dikala saya sedang terjatuh. Yang dengan sabar selalu menasehati dan selalu ada untuk saya. Terima kasih karena sudah sangat begitu sayang dengan saya dan juga orangtua saya. Orang yang bisa membuat anak keras kepala ini menjadi takluk. Terima kasih. Walaupun kamu bilang kalau rasa sayangmu terhadap saya itu sangat besar, tapi yang harus kamu tahu, rasa sayang saya itu lebih besar lagi terhadap kamu.


Itulah segelintir perjalanan saya di tahun 2017 kemarin. Dengan tahun yang baru ini, saya harap semuanya bisa menjadi lebih baik dari tahun yang kemarin.

You May Also Like

6 komentar

  1. Turut berduka untuk Ka Intan atas meninggalnya ibu-nya. :')

    Dilihat dari bulan Januari ibu kamu udah diuji oleh Tuhan. Itu berarti tanda bahwa Tuhan sudah semakin sayang dengan dia, lebih-lebih dari sayangnya siapapun sekarang ini. Semoga dengan cobaan itu, semua bisa lapang dada menerima semua cobaan ini.

    ReplyDelete
  2. Baca kisahmu jadi ikut sedih, Ginty. Tahun kemarin ternyata bukan cuma saya saja yang ngerasain cobaan, ujian berat dari-Nya. Innalillahi wa innailaihi rojiiun, saya turut belasungkawa. Semoga Ginty dan ayah tabah. Bisa melalui fase-fase sulit dengan baik.
    Dalam hidup, ada hal yang kita dapat, kehilangan pun adalah sesuatu yang niscaya dalam hidup kita.
    Sakit ibu sampai berpulangnya kepada Allah, pengalaman baru dalam beroleh ilmu dan perjalanan, silaturahmi dengan sekian orang. Percayalah, Allah sayang kita.
    Jadi, saya ingin mengutip puisi penyair Ags. Arya Dipayana, “Tetapkan langkah, dan berjuanglah untuk tabah.”
    Dan masih ada yang menemanimu untuk melangkah. Seseorang yang istimewa di sampingmu, sampai kawan-kawan di mana saja.

    ReplyDelete
  3. Turut berduka cita Gin atas kepergian ibumu, semoga amal ibadah almarhum diterima disisi Allah SWT

    Dari cerita kamu, aku jadi ingat peristiwa kehilangan Mbah Kakung dan Mbah Utiku, sama juga di tahun 2017, tepatnya saat bulan Ramadhan. Kepergian mereka tidak disangka-sangka karena jaraknya yang dekat, diawali dengan Mbah Kakung, 13 hari kemudian Mbak Uti menyusul mbah kakung. Jujur aja, ketika lebaran tiba, rasanya seperti berbeda, sangat berbeda, bahkan rasanya tidak ada semangat kemenangan karena kehilangan 2 anggota keluarga sekaligus. Tapi bagaimanapun itu hidup harus berjalan bukan? Sedih itu wajar karena kita manusia yang diberikan hati untuk merasa. Semoga kamu dan ayahmu diberikan kekuatan untuk terus berjalan ya Ginty. Semangat terus! :)

    ReplyDelete
  4. BAca di awal soal sakitnya ibundamu Gin, aku ngerasa ini akan jadi ending yang menyedihkan. Ternyata bener.

    Turut berduka cita atas meninggalnya ibumu. Semoga dirimu dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran dan kekuatan untuk terus memperjuangkan hidup ini.

    AKu sebagai cowok ngerti banget perasaan Ayahmu.

    Memang, semua orang akan mati pada masanya. Tapi, hal itu juga tidak bisa kita selali, sedih itu pasti. Tapi, terlalu larut dalam kesedihan juga akan membuat kita semakin terpuruk.

    Prestasimu bisa mengajar guru yang dulu mengajarmu menurutku adalah Amazing banget gin. Kamu seorang yang kuat dan aku yakin apa yang kamu lakukan saat ini akan selalu membuat ibumu bahagia di alam sana. AMinnn..


    Kamu harus kuat, ya Gin. :)

    ReplyDelete
  5. Turut berduka cita atas kepergian ibumu, semoga amal ibadah diterima disisi Allah SWT.

    Tahun yang penuh cobaan ya? Tetep semangat untuk tahun ini. Semoga kita lebih baik dari tahun kemarin. :)

    ReplyDelete
  6. turut berduka cita mbak :') sedih pas asal baca. awal tahun disambut dengan kabar yang seperti itu. memang kita tidak akan tau kapan kita bakal dipanggil Tuhan.

    aku juga pernah kepikiran kerja di luar kota terus pindah-pindah soalnya seneng kan kalo bisa jalan-jalan dan liat suasana baru. eh pas tau kalo rasanya (gara-gara kuliah di luar kota) ternyata nggak enak. capek dan ribet :')

    ReplyDelete